Info Techno

Pendeteksi Longsor Buatan Peneliti Indonesia Ini Mendunia

12 May 2016 - 07:17 WIB

Tanah longsor sejatinya merupakan peristiwa alam. Meski demikian, tanah longsor bisa diminimalisasi berkat sistem deteksi dini longsor yang diciptakan seorang peneliti Indonesia.

Teuku Faisal Fathani, peneliti sekaligus penemu alat pendeteksi longsor dari Universitas Gadjah Mada, terinspirasi dari alat-alat pendeteksi gempa asal Jepang yang dibawa oleh Japan International Coorporation Agency (JICA) saat menanggulangi bencana longsor di Indonesia pada 1999.

Alat pendeteksi longsor yang terdiri dari penakar hujan, ekstensiometer, tiltmeter, dan alat untuk memantau fluktuasi muka air tanah tersebut dibawa ke KecamatanKalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta untuk memantau pergerakan tanah.

Sayangnya setelah dipasang, ada alat yang mengalami kerusakan dan hanya bisa diperbaiki di negara asalnya. Karena untuk memperbaiki alat itu butuh banyak biaya, pada 2006 Faisal mencoba menciptakan alat pendeteksi tanah longsor yang diberi nama GAMA-EWS.

Sempat mengalami kesulitan dari sisi elektroniknya, Faisal mengajak mahasiswa jurusan Teknik Elektro UGM untuk ikut membantu. Sebagai hasilnya, pada 2007 Faisal dan tim berhasil membuat alat deteksi dini tanah longsor generasi pertama yang pembacaan pergerakan tanahnya masih manual.

Tidak berpuas diri, dosen Teknik Sipil UGM ini terus mengembangkan alat pendeteksi dini tanah longsor. Hingga kini pencatatan tak lagi dilakukan secara manual. Pada generasi kedua, GAMA-EWS dilengkapi dengan kertas, sehingga tiap ada pergerakan tanah, alat tersebut akan mengeluarkan catatan yang bisa terbaca di kertas.

Ketika alat dipasang di daerah gempa, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Syamsul Maarif memberikan masukan bahwa pencatatan dengan kertas mengharuskan masyarakat datang ke lokasi longsor untuk mengecek hasil deteksi.

Hal ini dianggap membahayakan, sehingga alat pendeteksi longsor disempurnakan kembali oleh Faisal dengan menggunakan kartu memori. Dengan demikian, pemantauan dapat dilakukan tanpa harus mendekati alat.

Tak berhenti di situ, Faisal juga menciptakan alat deteksi dini longsor generasi ketiga menggunakan teknologi telemetri atau wireless. Dengan demikian, peringatan tanah longsor bisa didapatkan melalui pesan singkat, modem internet, serta radio frekuensi.

Kehadiran teknologi ini memungkinkan data bisa dikirim dari lokasi longsor ke lokasi pemantauan dengan jarak maksimal 100 kilometer.

Pada alat deteksi dini tanah longsor generasi ketiga ini, Faisal menggunakan dua ekstensiometer, dua tiltmeter, dan satu penakar hujan, yang seluruhnya digabungkan dalam satu repeater. Kemudian, data-data yang terekam di seluruh alat ini dikirimkan ke kantor pemantau longsor.

Setelah dianalisis tim pemantau dan diputuskan bahwa masyarakat perlu informasi lebih lanjut, BPBD kemudian akan mendapatkan alarm berupa sinyal sirene saat akan terjadi longsor, sehingga warga di sekitar lokasi rawan bencana bisa segera dievakuasi.

“Kini, alat deteksi tanah longsor sudah masuk ke generasi keempat,” kata Faisal.

Ia menyebutkan, pada generasi ketiga, sistem pendeteksi tanah longsor jadi lebih tangguh, mudah dijalankan, kuat, kokoh, dan tahan terhadap cuaca. Lebih lanjut, pria yang sering menjadi pembicara tentang sistem deteksi tanah longsor di berbagai negara ini mengatakan, sistem pendeteksi tanah longsor ini kini telah dipasang di 20 provinsi di Indonesia.

Bukan hanya digunakan di komunitas dalam negeri, sistem pendeteksi dini longsor ini pun dipakai oleh perusahaan seperti Pertamina Geothermal Energy di tujuh provinsi, di situs Freeport di Timika, Papua, serta di perusahaan tambang Medco. Sementara di luar negeri, sistem pendeteksi ini digunakan di perusahaan tambang di Myanmar dan akan segera dipakai di Laos, Timor Leste, dan Selandia Baru.

Tidak hanya itu, saking banyaknya kebutuhan akan sistem pendeteksi tanah longsor ini, Faisal dan mahasiswa UGM melatih industri kecil di wilayah yang membutuhkan untuk membuat alat pemantau tanah longsor GAMA-EMS. “Sampai sekarang saya sudah tidak menghitung berapa banyak alat yang sudah dibuat,” ujar Faisal.

Selain berguna, lima alat deteksi dini longsor ini juga sudah dipatenkan. Di antaranya adalah ekstensiometer generasi satu manual, ekstensiometer generasi satu dengan pembacaan kertas, dan ekstensiometer digital dengan kartu memori.

Lantas, berapa harga sistem pendeteksi tanah longsor ini? Faisal mengatakan, satu sistem lengkap terdiri dari sembilan alat pendeteksi tanah longsor seharga Rp 300 jutaan.

Sementara pendeteksi dari luar negeri seharga Rp 300 juta per alatnya. Bayangkan, jika Indonesia belum memiliki alat ini dan harus memakai alat dari luar, tentu akan menghabiskan banyak biaya.

Atas inovasi ini, UNESCO menetapkan UGM sebagai Pusat Unggulan Dunia dalam Pengurangan Risiko Bencana Tanah Longsor 2011-2014 dan 2014-2017.

Yang juga membanggakan, alat pendeteksi dini tanah longsor ini juga telah mendapat pengakuan dunia pada saat pertemuan para pakar tanah longsor yang dihadiri 80 negara di Jepang (2008) dan Tiongkok (2010). 


TAGS   Teknologi /


Recent Post

Recent Comments

Archive